Senin, 18 November 2019

Bendahara yang tidak jujur Luk 16:1-8 (Memperjuangkan keselamatan dari Allah untuk diri kita)


Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur 
(Lukas 16:1-8)

     Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.  
Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.
Renungan:
Pertanyaan:
Mengapa bendahara yang tidak jujur koq malah dipuji?
Hati kita tentu akan berontak, koq yang tidak jujur malah dipuji dalam perumpamaan diatas, berarti dalam kehidupan nyata berarti benarlah kata-kata "ORANG JUJUR ITU AJUR (HANCUR)" kalau memang demikian ya lebih baik kita tidak jujur saja dalam segala hal, bukan itu yang dimaksud, si bendahara ingin menyelamatkan dirinya supaya ia apabila ia benar-benar dikeluarkan si Bos, ia akan "dianggap" menolong oleh orang-orang yang berhutang pada Bosnya, maka dengan sengaja ia membuat "diskon" hutang, yang tadinya 100 pikul gandum, hanya ditulis 80 pikul gandum dan seterusnya. Pikir si bendahara yang penting aku selamat dulu, yang lain urusan belakang

Apa hubungannya dengan kita?
Apakah kita sama seperti bendahara yang tidak jujur itu, yaitu keselamatan hidup kita diatas segalanya. 
Kita telah dijanjikan keselamatan oleh Allah, akan tetapi apakah kita benar-benar memperjuangkan keselamatan dari Allah itu atau kita menanggapi dengan cuek, umpama meninggal, masuk surga, Alleluia, masuk neraka, ya nasib 😂

Bagaimana caranya? 
Jadilah orang yang "dipuji Tuhan" 
Apa yang harus dilakukan?
ketika Aku telanjang engkau memberikanku pakaian, ketika Aku lapar engkau memberiku makan, ketika Aku di perjalanan engkau memberikanku tumpangan dsb
Atau tertulis juga di dalam 8 sabda bahagia di bukit

Refleksi: 

Apakah kita telah benar-benar berpikir untuk memperjuangkan keselamatan dari Allah untuk hidup kita?

Kemuliaan kepada Bapa, Putra dan Roh Kudus


Keyword: keselamatan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar